Shalat sunnah tarawih adalah shalat sunnah yang dikerjakan khusus pada malam hari di bulan Ramadhan, biasanya dilaksanakan secara berjamaah setelah shalat Isya dan sebelum shalat Witir. Shalat ini memiliki keistimewaan khusus dalam Islam karena hanya dilakukan selama bulan suci Ramadhan dan mengandung pahala yang sangat besar bagi yang mengerjakannya dengan ikhlas dan konsisten.
Pengertian Shalat Tarawih dan Sejarahnya
Secara bahasa, kata “tarawih” berasal dari bahasa Arab yang berarti “istirahat” atau “santai”, merujuk pada kebiasaan para sahabat Nabi untuk beristirahat sejenak setelah setiap empat rakaat shalat. Shalat sunnah tarawih merupakan bagian dari shalat sunnah yang memiliki posisi khusus dalam kalender ibadah umat Islam.
Asal Usul Pelaksanaan Tarawih
Sejarah pelaksanaan shalat sunnah tarawih bermula dari zaman Rasulullah SAW. Awalnya, Nabi Muhammad SAW melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah di masjid selama beberapa malam, namun kemudian beliau meninggalkannya karena khawatir shalat ini akan diwajibkan kepada umatnya. Hal ini tercatat dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Aisyah RA.
Perkembangan di Masa Khulafaur Rasyidin
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau melihat umat Islam melaksanakan shalat sunnah tarawih secara terpisah-pisah di masjid. Melihat kondisi ini, Umar kemudian mengumpulkan mereka dalam satu imam, yaitu Ubay bin Ka’ab. Sejak saat itulah tradisi shalat tarawih berjamaah dengan satu imam menjadi praktik yang umum di kalangan umat Islam.
Tata Cara Shalat Tarawih yang Benar Menurut Sunnah
Pelaksanaan shalat sunnah tarawih mengikuti tata cara shalat sunnah pada umumnya, namun dengan beberapa kekhususan yang perlu diperhatikan.
Waktu Pelaksanaan
Shalat sunnah tarawih dilaksanakan setelah shalat Isya dan sebelum shalat Witir. Waktu terbaik untuk melaksanakannya adalah di sepertiga malam terakhir, meskipun kebanyakan masyarakat melaksanakannya segera setelah shalat sunnah isya.
Jumlah Rakaat dan Cara Pelaksanaan
Berikut adalah tata cara lengkap pelaksanaan shalat sunnah tarawih:
- Dilaksanakan dengan salam setiap dua rakaat
- Setiap dua rakaat dianggap satu kali salam
- Bacaan surat Al-Qur’an bisa disesuaikan dengan kemampuan
- Disunnahkan untuk memperpanjang berdiri, ruku, dan sujud
- Dianjurkan untuk khusyuk dan tidak terburu-buru
Penting untuk memahami bahwa sunnah shalat dalam tarawih mengutamakan kekhusyukan dan pemahaman akan bacaan yang dilantunkan.
Bacaan dan Doa dalam Tarawih
Dalam shalat sunnah tarawih, tidak ada bacaan khusus yang harus dibaca. Namun, dianjurkan untuk membaca surat-surat panjang dari Al-Qur’an, terutama jika menjadi imam. Bagi makmum, cukup mendengarkan bacaan imam dengan khusyuk.
Perbedaan Pandangan tentang Jumlah Rakaat Tarawih
Perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat shalat sunnah tarawih merupakan hal yang wajar dalam fiqih Islam dan menunjukkan keluasan rahmat Allah SWT.
Pandangan 20 Rakaat
Mayoritas ulama mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali berpendapat bahwa shalat sunnah tarawih berjumlah 20 rakaat. Pendapat ini didasarkan pada praktik yang dilakukan para sahabat di masa Khalifah Umar bin Khattab dan diikuti oleh generasi berikutnya.
Pandangan 8 Rakaat
Sebagian ulama, termasuk mazhab Hanafi, berpendapat bahwa shalat sunnah tarawih berjumlah 8 rakaat. Mereka berargumentasi dengan hadits Aisyah RA yang menyebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah shalat lebih dari 11 rakaat di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.
Landasan Hukum Masing-masing Pandangan
Kedua pandangan tentang jumlah rakaat shalat sunnah tarawih memiliki dasar yang kuat dalam Islam. Perbedaan ini seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan menunjukkan fleksibilitas dalam shalat sunnah rawatib dan ibadah-ibadah lainnya.
Sebagai bagian dari shalat sunnah rawatib adalah ibadah yang memiliki kelonggaran dalam pelaksanaannya, termasuk dalam hal jumlah rakaat.
Keutamaan dan Pahala Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan
Shalat sunnah tarawih memiliki keutamaan yang sangat besar, sebagaimana dijanjikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsi.
Pengampunan Dosa
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menegakkan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Shalat tarawih termasuk dalam makna “menegakkan Ramadhan” yang dimaksud dalam hadits ini.
Pahala Shalat Semalam Penuh
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW menyatakan bahwa orang yang melaksanakan shalat sunnah tarawih bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya pahala shalat semalam penuh. Ini merupakan keutamaan yang sangat besar yang tidak boleh dilewatkan.
Meningkatkan Kualitas Iman
Konsistensi dalam melaksanakan shalat sunnah tarawih selama bulan Ramadhan dapat meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan. Ibadah ini menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membersihkan hati dari berbagai noda dosa.
Manfaat Spiritual dan Sosial
Selain manfaat spiritual, shalat sunnah tarawih juga memiliki manfaat sosial yang besar. Pelaksanaannya secara berjamaah di masjid memperkuat ukhuwah islamiyah dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk beribadah.
Sebagai bagian dari shalat sunnah rawatib muakkad, tarawih memiliki kedudukan yang penting dalam menyempurnakan ibadah di bulan Ramadhan. Demikian pula dengan shalat sunnah ashar dan shalat-shalat sunnah lainnya, masing-masing memiliki keutamaan dan waktu pelaksanaan yang spesifik.
Dalam menutup pembahasan tentang shalat sunnah tarawih, penting untuk diingat bahwa esensi dari ibadah ini adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Perbedaan dalam jumlah rakaat atau teknis pelaksanaan tidak boleh mengurangi makna spiritual dari ibadah yang mulia ini. Yang terpenting adalah konsistensi, kekhusyukan, dan keikhlasan dalam melaksanakannya selama bulan suci Ramadhan tahun 2025 ini.






